Martinus Mai
Kata yang agung didengar dan terkesan mulia untuk diucapkan namun sulit untuk dilaksanakan. Tuntutan tanggung jawab setiap warga negara akan warganya terutama anak-anak kecil seakan-akan terasa amat besar. Realita memang tidak selalu berjalan sesuai dengan yang diharapkan. Disadari atau tidak, negara ini justru membuat jurang yang lebih luas antara manusia yang satu dengan yang lain yang berdampak pada pelanggaran HAM. Tidak ada yang salah dengan hukum yang mengikat kebeasan kita, yang jelas, keserakahan – salah satu penyebab di antara faktor-faktor lainnya – telah mengakibatkan penderitaan-penderitaan yang harus dialami insan-insan di negeri ini. Mereka yang seharusnya melewati masa-masa kemerdekaan dengan ceria terpaksa menanggung segala penderitaan hidup. Kasus ibu yang menjual keperawanan anaknya, anak-anak kecil ngamen di jalanan, atau pengemis dan penjual-penjual koran yang berkeliaran, hanyalah segilintir kisah yang membuat kita miris tinggal di negri ini. Lalu, siapa yang harus disalahkan? Ketika polisi penolong berubah menjadi pemerkosa yang sadis; ketika guru pengayom berubah menjadi binatang pengikut hawa nafsu; ketika keluguan anak menjadi lahan eksploitasi demi meraup keuntungan, sekalipun itu hanya untuk kepentingan sendiri?

Anak-anak selalu menjadi korban kekejian manusia dewasa. Pelanggaran HAM anak semakin meningkat dan tidak tahu sampai kapan berakhir. Dunia mencatat kita sebagai salah satu negara dengan pelanggaran hak anak tertinggi. Orang Indonesia yang terkenal santun dan berakhlak mulia kini terlihat seperti binatang-binatang buas yang siap menerkam mangsanya. Sekali lagi, bocah-bocah itu menjadi korbannya. Kasus ”Mei Kelabu” yang mengorbankan jutaan nyawa etnis tertentu, peristiwa poso, dan tindakan keji di Kalimantan menunjukan betapa gersangnya nilai-nilai hak asasi bertumbuh di bumi indonesia.

Pergaulan bebas yang tumbuh subur dikalangan remaja bahkan sudah menjadi budaya, melahirkan pergaulan bebas yang tidak terkendali. Kemajuan teknologi dan ilmu pengatahuan yang seharusnya bisa mengatasi masalah negri ini, akhir-akhir menjadi gudang masalah HAM. Tidak dapat dipungkiri pengadaan alat-alat kontrasepsi seakan mengundang kalangan remaja bahkan yang baru seumur jagung harus merasakan racun dalam madu. Lagi-lagi praktik ABORSI yang menjadi trend saat ini di negri ini, di mana seorang dokter yang seharusnya menjadi pelayan kesehatan masyarakat yang menjunjung tinggi nilai-nilai kehidupan ternyata membuka praktik ABORSI ilegal di mana-mana. Belum lagi para keamanan negara yang seharusnya menjadi pelindung rakyat, kini seakan menjadi singa yang siap menerkam. Lalu di manakah hak-hak seseorang harus ditempatkan?
Tag: edit post
0 Responses

Posting Komentar