Bukan suatu kebetulan, nampaknya, bahwa hanya dua puluh tahun sesudah penemuan teknologi fotografi (1839), para Jesuit Belanda pertama mendarat di Hindia Belanda, sekarang Indonesia, pada tahun 1859. Juga, kedatangan mereka hanya berselang dua tahun sesudah berdirinya Lembaga Ilmu Pengetahuan Masyarakat Batavia (1857), cikal bakal Perpustakaan Nasional di Jakarta sekarang. Seratus lima puluh tahun sesudah kehadiran para Jesuit pertama tersebut, Sanata Dharma adalah satu-satunya universitas Jesuit di Indonesia, yang sekarang ini mempunyai sekitar 9000 mahasiswa, dan dilayani 20 Jesuit bumiputera, 2 Jesuit Belanda WNI, dengan sekitar 350 dosen dan 300 karyawan.
Awal kehadiran para jesuit tersebut adalah saat Hindia Belanda sedang “menikmati” Strategi Pembangunan Pertanian (“Kultuur Stelsel,” atau “Politik Tanam Paksa”) yang berbasis politik ekonomi modern, liberal dan global. Situasi kolonial tersebut membuat mereka bekerja secara “simbiotik” dengan para pengusaha pencari laba (“Gold”), yang dijamin secara aman dan tertib oleh para birokrat penguasa sipil maupun militer (“Gun”). Tentu saja, selain rela bekerja memberi pendidikan dan pelayanan kesehatan bagi warga bumiputera calon pegawai para pengusaha dan penguasa, para misionaris tersebut juga bertujuan untuk “memuliakan” Tuhan (“God”).
Skenario simbiotik demi memuliakan Tuhan dari para misionaris Jesuit pertama tersebut sesungguhnya adalah warisan cara pandang (visi) dan cara bertindak (misi) dari pendiri tarekat Jesuit, Ignasius Loyola (1491-1556). Bagi Ignasius, memandang alam sekeliling adalah berarti juga secara cakap merekam, mengkaji dan memahami nya dengan segala akal-budi, ingatan, kehendak, dan kebebasan secara reformatif; yaitu memandang dan menanggapi berbagai peristiwa kehidupan dengan prioritas mementingkan peran mata, baru kemudian telinga. Menurut Ignasius, sebuah peristiwa dan pengalaman tentangnya hendaknya dipahami sebagai sebuah “scenario” (pandangan, gagasan) tertentu, dan bukan sekedar sebagai sebuah “scene” (pemandangan) yang mudah dan cepat terlewatkan begitu saja.

Bagi Jesuit yang bekerja di Indonesia, “scenario” itu diwujudkan dalam bidang pendidikan. Lihat bagaimana pater Van Lith mengagas tentang perlunya pendidikan bagi para pribumi Indonesia dengan mulai mendirikan sekolah di daerah Muntilan pada awal abad 20 sampai dengan seorang Driyarkara yang berpandangan tentang 3 pilar utama pendidikan yaitu humanistik, dialogik dan reflektif. Dengan pedagogi macam ini Driyarkara membuat wacana tentang pendidikan sebagai hominisasi dan humanisasi manusia. Manusia tidak hanya harus menjadi homo (manusia): dia juga harus menjadi homo yang human artinya yang berkebudayaan tinggi.
Skenario pendidikan macam itu pulalah yang ingin diusung oleh beberapa Jesuit dan rekan-rekannya yang terkait dengan Komunitas Robertus Bellarminus, Universitas Sanata Dharma, menangkap dengan sudut mata kamera berbagai macam peristiwa pendidikan, entah formal maupun informal, dan memamerkannya di Bentara Budaya Jogja, tanggal 1 – 5 Mei 2009. Foto-foto tersebut, nampaknya, mampu melampaui fungsi awal kamera sebagai pengawet kemolekan misi Hindia Belanda. Tidak jarang subyek sebuah foto dari masa lalu, ternyata mampu berbalas tatapan dan gagasan (penuh makna) dengan para penonton (di) Indonesia masa kini.

Awal kehadiran para jesuit tersebut adalah saat Hindia Belanda sedang “menikmati” Strategi Pembangunan Pertanian (“Kultuur Stelsel,” atau “Politik Tanam Paksa”) yang berbasis politik ekonomi modern, liberal dan global. Situasi kolonial tersebut membuat mereka bekerja secara “simbiotik” dengan para pengusaha pencari laba (“Gold”), yang dijamin secara aman dan tertib oleh para birokrat penguasa sipil maupun militer (“Gun”). Tentu saja, selain rela bekerja memberi pendidikan dan pelayanan kesehatan bagi warga bumiputera calon pegawai para pengusaha dan penguasa, para misionaris tersebut juga bertujuan untuk “memuliakan” Tuhan (“God”).
Skenario simbiotik demi memuliakan Tuhan dari para misionaris Jesuit pertama tersebut sesungguhnya adalah warisan cara pandang (visi) dan cara bertindak (misi) dari pendiri tarekat Jesuit, Ignasius Loyola (1491-1556). Bagi Ignasius, memandang alam sekeliling adalah berarti juga secara cakap merekam, mengkaji dan memahami nya dengan segala akal-budi, ingatan, kehendak, dan kebebasan secara reformatif; yaitu memandang dan menanggapi berbagai peristiwa kehidupan dengan prioritas mementingkan peran mata, baru kemudian telinga. Menurut Ignasius, sebuah peristiwa dan pengalaman tentangnya hendaknya dipahami sebagai sebuah “scenario” (pandangan, gagasan) tertentu, dan bukan sekedar sebagai sebuah “scene” (pemandangan) yang mudah dan cepat terlewatkan begitu saja.

Bagi Jesuit yang bekerja di Indonesia, “scenario” itu diwujudkan dalam bidang pendidikan. Lihat bagaimana pater Van Lith mengagas tentang perlunya pendidikan bagi para pribumi Indonesia dengan mulai mendirikan sekolah di daerah Muntilan pada awal abad 20 sampai dengan seorang Driyarkara yang berpandangan tentang 3 pilar utama pendidikan yaitu humanistik, dialogik dan reflektif. Dengan pedagogi macam ini Driyarkara membuat wacana tentang pendidikan sebagai hominisasi dan humanisasi manusia. Manusia tidak hanya harus menjadi homo (manusia): dia juga harus menjadi homo yang human artinya yang berkebudayaan tinggi.
Skenario pendidikan macam itu pulalah yang ingin diusung oleh beberapa Jesuit dan rekan-rekannya yang terkait dengan Komunitas Robertus Bellarminus, Universitas Sanata Dharma, menangkap dengan sudut mata kamera berbagai macam peristiwa pendidikan, entah formal maupun informal, dan memamerkannya di Bentara Budaya Jogja, tanggal 1 – 5 Mei 2009. Foto-foto tersebut, nampaknya, mampu melampaui fungsi awal kamera sebagai pengawet kemolekan misi Hindia Belanda. Tidak jarang subyek sebuah foto dari masa lalu, ternyata mampu berbalas tatapan dan gagasan (penuh makna) dengan para penonton (di) Indonesia masa kini.

Disalin dari: http://www.usd.ac.id/06/agenda.php?a=342&fp=l


Posting Komentar